Sumber Gambar: https://www.abc15.com

Health

September 24, 2020

dr. Putri

Pemeriksaan Laboratorium Untuk Mendeteksi Covid-19

 

Penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) meluas sangat cepat. Di Indonesia sendiri saat ini sudah terdapat hingga ratusan penderita yang positif terinfeksi COVID-19. Untuk mengetahui diagnosis penyakit ini tentu perlu mengenali gejala dan mengetahui adanya riwayat kontak dengan pasien terinfeksi. Ketika seseorang diduga terinfeksi virus ini maka mereka perlu dilakukan pengawasan serta pemeriksaan lanjutan untuk mengkonfirmasi apakah positif terinfeksi virus COVID-19.

 

Beberapa pengujian yang mendeteksi COVID-19 saat ini sedang dikembangkan. Beberapa tes hanya dapat mendeteksi virus baru dan beberapa juga dapat mendeteksi jenis lain (mis. SARS-CoV) yang secara genetik serupa.

 

Untuk mendeteksi penyebaran novel coronavirus dapat dilakukan oleh laboratorium dengan kemampuan molekular. Secara umum, tes laboratorium ini terbagi dalam dua kategori:

  • Tes molekuler, yang mencari bukti infeksi aktif; dan
  • Tes serologi, yang mencari infeksi sebelumnya dengan mendeteksi antibodi terhadap MERS-CoV.

 

Tes Molekuler

Tes molekuler digunakan untuk mendiagnosis infeksi aktif (keberadaan MERS-CoV) pada orang yang diduga terinfeksi MERS-CoV berdasarkan gejala klinis mereka dan memiliki hubungan ke tempat-tempat di mana MERS telah dilaporkan. Tes reaksi rantai polimerase reverse-transkripsi (rRT-PCR) real-time adalah tes molekuler yang dapat digunakan untuk mendeteksi viral load dalam sampel klinis. Sebagian besar laboratorium negara di Amerika Serikat disetujui untuk menguji MERS-CoV dengan menggunakan uji rRT-PCR yang dikembangkan oleh CDC (Centers for Disease Control and Prevention). Keberhasilan pengujian rRT-PCR tergantung pada beberapa faktor, termasuk pengalaman dan keahlian pemeriksa dan lingkungan laboratorium.

 

Tes Serologi

Pengujian serologi digunakan untuk mendeteksi infeksi sebelumnya (antibodi terhadap MERS-CoV) pada orang yang mungkin terpapar virus. Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk menyerang dan membunuh virus, bakteri, dan mikroba lainnya selama infeksi. Kehadiran antibodi terhadap MERS-CoV menunjukkan bahwa seseorang sebelumnya telah terinfeksi virus dan mengembangkan respons kekebalan. CDC memiliki pendekatan dua fase untuk pengujian serologi, menggunakan dua tes skrining dan satu tes konfirmasi untuk mendeteksi antibodi terhadap MERS-CoV.

 

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi infeksi coronavirus diantaranya:

  • Pemeriksaan radiologi: foto toraks, CT-scan toraks, USG toraks
  • Pemeriksaan spesimen saluran napas atas dan bawah
    • Saluran napas atas dengan swab tenggorok(nasofaring dan orofaring)
    • Saluran napas bawah (sputum, bilasan bronkus, BAL, bila menggunakan endotrakeal tube dapat berupa aspirat endotrakeal)
  • Biakan mikroorganisme dan uji kepekaan dari bahan saluran napas (sputum, bilasan bronkus, cairan pleura) dan darah. Kultur darah untuk bakteri dilakukan, idealnya sebelum terapi antibiotik.
  • Pemeriksaan feses dan urin (untuk investasigasi kemungkinan penularan)

Tetap waspada terhadap penyebaran atau penularan virus ini. Ketahui gejala dan tanda infeksi virus ini dan lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala serta memiliki kontak dengan seseorang yang terinfeksi. Lakukan juga langkah pencegahan untuk mengurangi penularan virus corona terhadap orang lain. (PP/PK)

 

Referensi:

  • CDC. 2019. CDC Laboratory Testing for Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV).
  • PDPI. 2020. Diagnosis dan Penatalaksanaan 23 Pneumonia COVID-19. Pneumonia COVID-19.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Subscribe to Our Latest Deals
and Our Newsletter

Dapatkan berita, inspirasi hingga tips menarik dari kami dan mitra-mitra yang terbaik dan terpercaya.

    By subscribing, you agree to our Terms of Use and Privacy Policy.